Rabu, 20 April 2011

Telkom Kembali Realisasikan ‘Buyback’ Saham





PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) merealisasikan pembelian kembali (buyback) saham tahap IV maksimal sebanyak 2,07 persen dari seluruh jumlah saham seri B yang telah dikeluarkan, atau maksimal 416.666.667 lembar saham seri B.

Seperti dikutip dari keterangan yang diterbitkan perusahaan, Selasa (19/4). Pembelian kembali saham tersebut akan dilakukan secara bertahap dalam waktu paling lama 18 bulan sejak disetujuinya pembelian kembali saham IV oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan.


Pembelian kembali saham IV tersebut akan dilaksanakan berdasarkan pertimbangan dari manajemen perseroan melalui pembelian saham pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana yang akan digunakan untuk pembelian kembali saham tersebut dikabarkan tidak lebih dari 3 triliun rupiah.

Bisnis Online Trading Semakin Diminati AB

Meski Terbatas, Perkembangan Algo Trading Semakin Besar



Minat Anggota Bursa (AB) dalam menekuni bisnis transaksi perdagangan saham jarak jauh melalui internet (online trading) semakin tinggi. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya perusahaan efek yang mengajukan izin live perdagangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) ditahun ini.


Direktur Teknologi Informasi BEI, Adikin Basirun mengatakan, setidaknya ada sekitar 19 perusahaan sekuritas yang telah mengajukan izin perdagangan online trading, dan kini tengah mempersiapkan pengembangan (development) sistem didalam internal perusahaannya.

“Jika sudah selesai, nantinya akan kita lanjutkan dengan uji coba (testing) di area development dan poduction bursa, sebelum akhirnya kami berikan pernyataan live untuk mulai berdagang,” ujar Adikin, di Jakarta, Selasa (19/4).

Penawaran Umum Saham Perdana Kembali Marak







Beberapa Perusahaan Telah Memasukkan Kontrak Pendahuluan IPO


Keadaan pasar yang semakin membaik membuat jumlah perusahaan yang ingin melantai di Bursa Efek indonesia (BEI) meningkat. Buktinya sudah ada beberapa perusahaan yang mengajukan diri untuk menawarkan saham umum perdananya di tahun ini.


Salah satunya adalah PT Bahtera Niaga Internasional, yang kabarnya siap melepas saham perdana, atau Initial Public Offering (IPO) pada Juni mendatang. "Mereka sudah memasukan proposal kontrak pendahuluan IPO, saham yang ditawarkan sekitar 20 persen," papar Eddy Sugito Direktur Penilaian Perusahaan BEI di Jakarta, Selasa (19/4).


Dirinya menuturkan, Bahtera Niaga International merupakan perusahaan jasa pendukung industri minyak lepas pantai dan gas. Selain itu, perusahaan juga mendukung sektor pengiriman batubara. Namun, pihaknya mengaku belum mengetahui berapa dana yang akan dihimpun Bahtera Niaga.


"Mereka sudah melakukan paparan terbatas (mini expose) kepada kami. Perusahaan jasa pendukung offshore services ini juga sudah menunjuk Erdhika Elit Securities selaku pelaksana penjamin emisi (underwriter),” lanjut Eddy.

Bapepam-LK dan BUMN Diminta Wajibkan Sertifikasi

Sertifikasi Manajemen Resiko




Asosiasi Praktisi Manajemen Resiko, atau Association Risk Management Practitioner (ARMP) akan mendorong Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mewajibkan perusahaan yang dibawah pengawasannya melakukan sertifikasi manajemen resiko, baik secara personal maupun sebagai entitas bisnis.


Hal itu dilakukan demi memitigasi resiko, melindungi, mencegah serta menanggulangi kerugian yang terjadi pada perusahaan, tatkala pihaknya menjalankan bisnis secara rutin (business as usual). Dalam upaya pendekatannya tersebut, ARMP akan melakukan rapat kerja (raker) di bulan Mei 2011 demi merumuskan standarisasi manajemen resiko yang nantinya akan diusulkan ke Bapepam-LK dan BUMN.


“Ada beberapa standarisasi yang akan kita rumuskan, dan nantinya akan kita rangkum menjadi sebuah rancangan (draft) yang sesuai regulasi (regulatory based), mengakomodir konten lokal, namun tanpa mengesampingkan standar internasional,” papar Ridwan Zachrie Ketua ARMP, di Jakarta, Selasa (19/4).

Jumat, 08 April 2011

Kuartal Pertama Asing Bukukan Nilai Jual Bersih









Faktor Inflasi dan Krisis Timur Tengah Menjadi Alasan Utama Asing Keluar


Kekhawatiran akan inflasi dan gejolak politik di kawasan Timur Tengah, menjadi alasan utama yang menyebabkan investor asing membukukan nilai jual bersih (net sales) di sepanjang kuartal pertama 2011. Hal itu sempat membuat indeks di bursa saham domestik bergerak fluktuatif, dan bahkan mencatatkan penurunan terbesarnya, setelah ditahun lalu ditutup dengan rekor yang gemilang.

Menurut data statistik, selama kuartal pertama, pemodal asing menorehkan nilai jual bersih sebesar 4,62 triliun rupiah, dan mencapai puncaknya pada minggu pertama bulan Maret 2011, dimana terjadi jual bersih senilai 5,13 triliun rupiah. Pada saat itu, konflik di Libya tengah memanas, sehingga menyebabkan harga minyak mentah dunia meroket hingga ke kisaran 105 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

“Hal itu sempat menimbulkan kekhawatiran yang tinggi, dan menyebabkan asing menarik dananya dari pasar modal, untuk kemudian dialihkan ke instrumen investasi yang beresiko lebih rendah,” papar Billy Budiman Head of Research Technical Batavia Prosperindo Securities, di Jakarta, Jumat (1/4).