Jumat, 08 April 2011

Penawaran Efek Domestik Menurun Drastis


Fluktuasi Pasar, Krisis Timur Tengah dan Inflasi Menjadi Faktor Utama


Penawaran efek perdana baik saham maupun surat utang (obligasi) di semester pertama 2011 mengalami penurunan dibanding tahun 2010. Kondisi pasar modal yang fluktuatif, konflik politik di timur tengah, dan adanya kekhawatiran terhadap nilai inflasi, menjadi faktor dominan yang menyebabkan perusahaan nasional enggan mencari pendanaan melalui pasar modal.

“Wajar saja, karena tahun lalu indeks kita sudah naik tinggi sekali, sehingga tidak heran jika sekarang sedikit terjadi koreksi, sebelum akhirnya nanti bisa naik kembali. Tentu saja, hal itu mempengaruhi pasar efek perdana yang pada tahun ini memang lebih kecil,” papar Mardi Sutanto Direktur OSK Nusadana Securities, di Jakarta, Rabu (6/4).

Hingga kuartal kedua 2011, baru ada sebanyak empat perusahaan tercatat (emiten) baru yang meramaikan lantai bursa, atau jauh lebih sedikit dibanding pencapaian tahun lalu yang sebanyak dua belas perusahaan. Meskipun, semester pertama masih menyisakan dua bulan, dan berpeluang ada penambahan sekitar tiga perusahaan lagi yang hendak menawarkan saham perdananya di Mei dan Juni 2011.

Sementara untuk obligasi, jumlah penerbitannya baru sejumlah delapan perusahaan atau sedikit lebih rendah dari tahun 2010, yakni sebesar sembilan perusahaan. Perbedaan mencolok juga terjadi pada nilai emisi, baik dalam penerbitan saham maupun surat utang.

Untuk tahun 2010, total nilai emisi Initial Public Offering (IPO) di semester pertama telah menembus angka 11,6 triliun rupiah, atau jauh melampaui hasil penawaran emisi perdana semester pertama ini yang baru senilai 5,5 triliun rupiah. Di penerbitan surat utang, hingga kini nilainya baru menembus angka 6,61 triliun rupiah, atau lebih kecil dari 2010, yaitu 8,85 triliun rupiah.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito mengaku tidak khawatir dengan hal itu. Menurutnya, saat ini pasar sudah mulai beranjak naik, dan kemungkinan akan mencapai puncaknya di semester kedua nanti. “Lagi pula, tahun lalu juga ramainya di semester kedua,” tutup Eddy.

Terakhir, otoritas bursa baru menerima satu proposal kontrak pendahuluan IPO dari PT Visi Media Asia, yang sedianya akan melakukan paparan terbatas (mini expose) pada pekan ini. Sementara untuk pra efektif pencatatan, bursa telah mengeluarkan izin penawaran umum saham perdana bagi PT Jaya Agra Wattie dan PT Salim Ivomas Pratama.

Ketiganya berencana melantai pada bulan Mei atau Juni 2011, dengan potensi nilai emisi antara 3,71 triliun sampai 4,72 triliun rupiah. Jika memang terealisasi, jumlah ini akan menggenapi empat pencatatan saham perdana sebelumnya, yang nantinya tetap belum akan mampu melampaui prestasi tahun 2010, yang sebanyak 12 perusahaan.

Seperti diketahui, pada tahun ini, banyak perusahaan yang melakukan pelepasan saham perdana dan obligasi. Momentum tersebut, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada tahun lalu, dimana pasar emisi efek justru berkembang sangat pesat.

Ayyi Achmad Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar