Jumat, 08 April 2011
Sektor Jasa Keuangan Mendominasi Penerbitan Emisi Efek
Efek Jasa Keuangan Non Bank Kurang Likuid Dipasar
Kuartal kedua tampaknya menjadi momentum bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa keuangan, seperti perusahaan pembiayaan (multifinance) dan perbankan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal. Pergerakan indeks yang stabil, arah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif, serta kebutuhan akan pendanaan untuk restrukturisasi hutang dan ekspansi bisnis, menjadi faktor pendukung maraknya penerbitan emisi efek disektor ini.
“Mereka membutuhkan tambahan dana yang besar. Karena, para pengusaha umumnya meminjam dana dari perusahaan pembiayaan ataupun perbankan. Sementara multifinance dan perbankan melihat pasar modal sebagai sumber pendanaan yang murah dan prosesnya cepat,” ujar Ukie Jaya Mahendra Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), di Jakarta, Senin (4/4).
Terlebih jika melihat siklus tahunan sektor jasa keuangan yang biasanya ekspansif dalam menyalurkan kredit di semester kedua. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), setidaknya ada delapan perusahaan jasa keuangan yang kini tengah menanti izin efektif untuk mengeluarkan surat utang (obligasi) konvensional dan syariah (sukuk). Dua buah perusahaan akan menerbitkan saham baru terbatas (right issue), dan satu perusahaan menerbitkan saham umum perdana.
Semuanya diperkirakan akan menawarkan emisi efeknya pada semester pertama 2011, menyusul beberapa perseroan lainnya yang telah lebih dahulu masuk ke pasar saham. “Hingga kini pasarnya masih bagus, prospek pertumbuhan jasa keuangan, utamanya multifinance juga masih besar,” jelas Harry Kurniawan Director Corporate Finance Makinta Securities, di Jakarta, Senin (4/4).
Apalagi kalau melihat indikator lainnya, seperti inflasi yang mulai terkendali, efek krisis global yang sudah menurun, cadangan devisa yang naik serta ekspektasi kinerje keuangan perusahaan tercatat (emiten) kuartal pertama yang bagus. Tentunya akan semakin meningkatkan minat investor untuk kembeli agresif di pasar modal.
Sayangnya, likuiditas saham disektor jasa keuangan non perbankan umumnya kurang likuid dipasar. Disamping karena kapitalisasi pasarnya (market cap) yang kecil, faktor resiko juga menjadi pertimbangan utama bagi sektor yang memang sangat rentan terhadap pergeseran ekonomi politik tersebut.
“Sehingga, jika tidak ada nilai lebihnya (added value) kemungkinan akan sulit untuk diserap oleh pasar. Misalkan, dengan memberikan harga diskon yang memberikan ekspektasi pertumbuhan disaat pencatatan saham perdana,” papar Ukie.
Salah satunya yang dinilai cukup prospektif adalah penawaran umum saham perdana PT HD Finance. Perusahaan yang bergerak dibidang pembiayaan kendaraan bermotor roda dua ini dinilai memiliki fundamental perusahaan yang bagus, dan menjanjikan propek perkembangan usaha yang masih besar.
“Kami akan melepas sekitar 460 juta lembar, atau setara 29,87 persen saham kepada publik, dengan target dana antara 100 miliar hingga 115 miliar rupiah. Melihat pangsa pasar kami yang baru sebanyak 1 persen terhadap industri, itu artinya masih memberikan peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar lagi kedepan,” ungkap Hariono Direktur Utama HD Finance, di Jakarta, Senin (4/4).
Kisaran tersebut mencerminkan harga buku, atau price to book value sebesar 1,2 kali, atau masih jauh lebih kecil dibanding rata-rata industri yang diangka 4 kali. “Saya pikir masih cukup menarik untuk diversifikasi portofolio,” tutup Ukie.
Ayyi Achmad Hidayah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar