Jumat, 08 April 2011
Kuartal Pertama Asing Bukukan Nilai Jual Bersih
Faktor Inflasi dan Krisis Timur Tengah Menjadi Alasan Utama Asing Keluar
Kekhawatiran akan inflasi dan gejolak politik di kawasan Timur Tengah, menjadi alasan utama yang menyebabkan investor asing membukukan nilai jual bersih (net sales) di sepanjang kuartal pertama 2011. Hal itu sempat membuat indeks di bursa saham domestik bergerak fluktuatif, dan bahkan mencatatkan penurunan terbesarnya, setelah ditahun lalu ditutup dengan rekor yang gemilang.
Menurut data statistik, selama kuartal pertama, pemodal asing menorehkan nilai jual bersih sebesar 4,62 triliun rupiah, dan mencapai puncaknya pada minggu pertama bulan Maret 2011, dimana terjadi jual bersih senilai 5,13 triliun rupiah. Pada saat itu, konflik di Libya tengah memanas, sehingga menyebabkan harga minyak mentah dunia meroket hingga ke kisaran 105 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.
“Hal itu sempat menimbulkan kekhawatiran yang tinggi, dan menyebabkan asing menarik dananya dari pasar modal, untuk kemudian dialihkan ke instrumen investasi yang beresiko lebih rendah,” papar Billy Budiman Head of Research Technical Batavia Prosperindo Securities, di Jakarta, Jumat (1/4).
Namun seiring dengan positifnya laporan keuangan perusahaan tercatat (emiten), dan mulai stabilnya angka inflasi, membuat asing kembali masuk ke pasar, meskipun tidak mampu membendung posisi jual yang telah terjadi sejak minggu pertama 2011. Pada waktu itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat terperosok ke level terendahnya di posisi 3.346,06 pada penutupan perdagangan tanggal 24 Januari 2011, atau merupakan yang terburuk dalam kurun waktu empat bulan terakhir.
Sempat membukukan nilai beli bersih (net buy) di Februari 2011, yakni sejumlah 2,42 triliun rupiah, investor asing kembali melepas kepemilikannya dibulan Maret 2011, sehingga menyebabkan terjadinya net sales sebanyak 3,21 triliun rupiah.
“Memburuknya perekonomian Amerika Serikat (AS), serta becana gempa dan tsunami di Jepang menjadi sentimen negatif baru yang membuat asing kembali menahan agresifitasnya di pasar saham nasional,” ujar Jeffrosenberg Tan Head of Research Sinarmas Sekuritas, di Jakarta, Jumat (1/4).
Walaupun, pengaruh negatif tersebut akhirnya terkikis oleh keluarnya data keuangan emiten besar yang banyak dirilis menggembirakan, serta membawa antusias baru bagi investor untuk kembali menggenjot transaksinya. Itu terbukti, ketiga pada minggu keempat dan lima Maret 2011, asing mulai masuk lagi ke bursa saham dan berhasil mengangkat indeks hingga ke level tertingginya sejak awal tahun, yaitu diposisi 3.707,49 dipenutupan perdagangan Jumat (1/4).
Capital Inflow Akan Berlanjut
Meskipun akan ada koreksi diawal April 2011, aliran dana asing yang masuk ke pasar modal domestik diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan meredanya nilai inflasi. Apalagi, kuartal kedua diproyeksikan akan menjadi momentum pembalikan (bullish), dimana aksi penawaran umum saham perdana diprediksikan akan kembali marak.
“Selama sepekan ke depan memang ada kekhawatiran indeks akan sedikit menurun. Karena besarnya dana asing yang masuk ke Indonesia dalam beberapa hari terakhir membuat adanya kekhawatiran mereka akan merealisasikan ambil untung (profit taking), jelas Jeffrosenberg.
Belum lagi jika mengacu pada analisis sejumlah pengamat, yang menyebutkan jika pasar saham Indonesia kini menjadi salah satu tujuan investasi paling diminati bersama-sama dengan bursa India. Fakta itu tidak terlepas dari potensi keuntungan (return) investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang pada tahun ini diperkirakan bisa mencapai antara 20 persen sampai 30 persen.
“Bahkan sudah ada beberapa Fund Manager Jepang yang mengaku akan mengalihkan portofolio investasinya ke Indonesia, menyusul kondisi negaranya yang kini tengah berbenah pasca gempa dan tsunami beberapa waktu lalu,” tutup Billy.
Ayyi Achmad Hidayah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar