Penundaan Momentum Membuat Potensi Bisnisnya Semakin Terbatas
Persaingan dalam bisnis pemeringkatan efek kini menjadi semakin ketat. Tertundanya momentum penawaran umum saham perdana, dan banyaknya perusahaan yang mengaji ulang rencananya untuk menerbitkan emisi efek menjadi dua faktor yang membuat lembaga pemeringkat bekerja keras untuk memperebutkannya.
Hal itu pun diakui oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) selaku penguasa pasar (market leader) dalam bisnis pemeringkatan efek. Pihaknya tidak berani menetapkan target yang agresif, dan hanya berharap pencapaian tahun ini bisa serupa dengan apa yang mereka dapatkan pada tahun lalu.
“Tahun lalu market share (pangsa pasar) kita 85 persen dari total penerbitan surat utang (obligasi) yang mencapai 45 triliun rupiah. Sementara untuk tahun ini kami kira jumlahnya tidak akan jauh berbeda, sehingga kita harapkan bisa sama dengan tahun 2010,” ujar Ronald T. Andy Kasim Direktur Utama Pefindo, di Jakarta, Kamis (24/3).
Itu artinya perusahaan menargetkan dapat merating obligasi senilai 38,25 triliun rupiah dari total penerbitan, yang pada tahun ini diproyeksikan bisa mencapai 45 triliun sampai 50 triliun rupiah. Sementara sampai pertengahan Maret 2011, perseroan dikatakan telah memeringkat obligasi senilai 12,8 triiun rupiah yang berasal dari sembilan perusahaan.
Selain itu, Pefindo juga telah menerima 10 hingga 12 mandat pemeringkatan surat utang yang kemungkinan akan dirilis pada semester kedua 2011. Jumlah tersebut masih ditambah dengan dua penunjukkan Fiscal Management Assesment (FMA) bagi pemerintahan daerah yang berniat mengeluarkan obligasi pemerintah daerah (municipal bonds) pada tahun 2012 mendatang.
“Mayoritas klien kami memang berasal dari perusahaan jasa keuangan seperti perbankan dan perusahaan pembiayaan. Namun khusus untuk yang FMA, kita baru dipercaya untuk merating dua pemerintahan kota yang berasal dari luar pulau Jawa, dan diharapkan bisa selesai di September atau Oktober 2011,” jelas Ronald.
Berdasarkan keterangan sebelumnya, pemerintahan kota tersebut berasal dari kawasan Indonesia Tengah dan Indonesia Timur, yang sedianya akan menerbitkan obligasi senilai 1,8 triliun rupiah. Namun sayangnya, pihak Pefindo belum mau membuka diri terhadap klien pertama yang mengikuti program yang digagas oleh bank dunia (world bank) ini.
Melihat sepak terjang kompetitornya, Fitch Rating Indonesia seakan tak mau kalah dan menargetkan bisa melakukan pemeringkatan obligasi senilai 14 triliun rupiah ditahun 2011. Jumlah itu mengalami kenaikan sebanyak 30 persen dibanding pencapaian tahun lalu, yang hanya sebesar 11 triliun rupiah.
"Jumlah pemeringkatan yang kita lakukan tahun lalu mencerminkan sekitar 30 persen dari total surat utang yang diterbitkan sepanjang 2010. Untuk tahun ini kita optimis bisa menjadi lebih baik, mengingat hingga tiga bulan pertama saja kita telah merating obligasi sebesar 5 triliun rupiah," jelas Baradita Katoppo President Director and Country Head of Fitch Rating Indonesia, di Jakarta, pekan lalu.
Beberapa diantaranya yang telah dirating oleh perusahaan adalah surat utang PT XL Axiata Indonesia Tbk, PT Wom Finance Tbk dan subdebt PT Bank International Indonesia Tbk. Sampai akhir semester pertama, setidaknya akan ada sebanyak 4-5 perusahaan lagi yang sedianya akan dirating oleh perseroan.
Sementara ICRA Indonesia mengaku belum terlalu agresif dalam menetapkan target. Sebagai pemain baru, pihaknya masih terfokus untuk melakukan pengembangan produk dan menjalin kedekatan dengan pada pelaku pasar.
“Sehingga kami tidak terlalu berfokus pada jasa pemeringkatan obligasi, namun juga coba untuk mengembangkan unit bisnis lain, seperti pemeringkatan reksa dana dan perusahaan (corporate rating),” papar Minon Almahsyur Direktur Utama ICRA Indonesia, di Jakarta.
Sedangkan dari segi produk, perusahaan baru saja menangai satu corporate rating ditahun lalu, dan akan bertambah dua lagi pada kuartal kedua 2011 ini. “Salah satunya dari pemeringkatan perusahaan, sementara satu lagi dari pemeringkatan surat utang,” tutup Minon.
Ayyi Achmad Hidayah