Sektor Komoditas dan Pertambangan Diminati, Telekomunikasi dan Manufaktur Dihindari
Meningkatnya kepemilikan asing dalam instrumen efek di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepekan terakhir, kembali menunjukkan jika pasar negara berkembang (emerging market) merupakan negara tujuan investasi yang kini paling diminati.
Kondisi global yang tengah melambat, dan selisih nilai mata uang (kurs) yang begitu lebar menjadi daya tarik tambahan bagi investor asing yang umumnya lebih toleran terhadap instrumen investasi yang beresiko tinggi.
“Tak heran, jika Indonesia kini menjadi kebanjiran likuiditas. Namun satu hal yang harus kita waspadai, mereka benar-benar ingin berinvestasi, atau hanya sebatas menguji pasar (melihat-lihat). Ini yang harus kita sikapi baik-baik,” ungkap Kuntoro Mangkusubroto Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), di Jakarta, Rabu (30/3).
Itu dibuktikan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini sangat fluktuatif, dan sulit untuk ditebak. Sempat mengalami tren kenaikan dipertengahan Maret 2011, kemudian akhirnya kembali menurun (bearish) ke level 3.500.
“Akibatnya pada Januari hingga Maret 2011, dana asing terus berpindah-pindah dari pasar emerging market ke bursa negara maju dan sebaliknya. Walaupun setelah itu, indeks global kembali bergerak hampir beriringan," tutur Khrisna Dwi Setiawan, Head of Bussiness Development Dhanawibawa Securities, di Jakarta, kemarin.
Kebijakan bank sentral di beberapa negara yang besar, yang terus mencetak uang (quantitative easing) membuat likuiditas di pasar global terus mengalami peningkatan. Seiring dengan perkembangan tersebut, mereka pun mencari kantong investasi yang lebih menjanjikan, dibandingkan di negaranya yang justru bertumbuh negatif.
"Sementara Indonesia menawarkan pertumbuhan ekonomi dan politik yang positif, dan tentunya akan diringi oleh pengembalian investasi yang diatas rata-rata negara maju,” ujar Nico Omer Jonckheere Vice President Valbury Asia Securities, di Jakarta.
Terbukti, kepemilikan portofolio asing di Bursa Efek Indonesia saat ini mengalami peningkatan sebanyak 2 persen menjadi senilai 63 persen, dibanding posisi akhir 2010 yang hanya sebanyak 61 persen. Jumlah itu berpeluang terus meningkat, mengingat di kuartal kedua ini pasar saham di Indonesia akan kembali diramaikan oleh serangkaian penawaran umum saham perdana dan surat utang (obligasi).
Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan bakal menarik perhatian asing adalah terkait komoditas dan pertambangan. Selain karena posisi Indonesia yang tercatat sebagai salah satu negara terbesar eksportir batubara dan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), sektor ini juga dinilai akan menjadi lokomotif pergerakan indeks global kedepan.
"Namun tak sedikit juga investor asing yang masuk ke sektor properti dan barang-barang konsumsi (consumer goods), melihat dua sektor ini juga tak kalah prospektifnya sepanjang tahun 2011,” lanjut Khrisna.
Sebaliknya, sektor yang mulai dihindari oleh investor asing adalah sektor telekomunikasi, karena pertumbuhannya yang kini sudah terbatas. Selain itu, kemungkinan juga sektor manufaktur, yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan dasar dan bahan bakar minyak (BBM).
"Bisa dilihat, saat ini Goldman Sachs melakukan downgrade terhadap pertumbuhan saham PT Astra International Tbk ke level 49.000 rupiah lembar saham, dikarenakan kenaikan bahan dasar manufaktur," tutup Nico.
Ayyi Achmad Hidayah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar