Rabu, 30 Maret 2011

Kebutuhan Pendanaan Picu Obligasi Korporasi



Kenaikan Harga Komoditas dan Kondisi Global Berpeluang Tekan Pasar

Walaupun kondisi global dan kenaikan harga komoditas semakin tak terkendali, namun prospek pasar surat utang (obligasi) korporasi di Indonesia diperkirakan masih akan tetap stabil dan bertumbuh dengan positif. Pertumbuhan ekomomi nasional yang relatif tinggi, dan kebutuhan perusahaan akan pendanaan yang besar turut menjadi pemicu bagi pasar penerbitan obligasi ditahun 2011.

Terlebih jika melihat fluktuasi pergerakan bursa saham domestik, dan akan dinaikkannya tingkat suku bunga acuan (BI Rate) ke level 7 persen, tentunya akan membuat investor sedikit mengalihkan (switching) portofolio investasinya ke instrumen yang beresiko lebih rendah, dan surat utang dinilai menjadi salah satu instrumen yang menarik dibandingkan produk perbankan.


“Terbukti, hingga kini pasar penjaminan emisi (underwriting), khususnya untuk obligasi masih semarak, terutama yang melibatkan perusahaan jasa keuangan seperti perbankan dan pembiayaan (multifinance),” tutur Hari B. Mantoro President Director HSBC Securities Indonesia, di Jakarta, Rabu (30/3).

Seperti diketahui, tren penguatan harga minyak dunia terus menembus level tertinggi dan membuat pasar imbal hasil (yield) obligasi domestik sempat mengalami penurunan. Pelaku pasar khawatir hal itu akan semakin memicu laju inflasi, yang imbasnya dapat menyebabkan pelambatan emisi obligasi.

Hingga kini, harga minyak mentah jenis Sweet Crude telah menembus level 104,3 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sementara untuk jenis brent, saat ini sudah menyentuh angka 114,8 dolar AS per barel. Krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara belakangan telah menyumbang kenaikan harga minyak antara 15 dolar AS sampai 20 dolar AS per barel.

Namun, sentimen tersebut tak cukup kuat untuk menahan pasar surat utang yang diproyeksikan bakal marak, dan bisa mencapai angka 45 triliun hingga 50 triliun rupiah ditahun ini. HSBC Securities menargetkan setidaknya dapat menjamin 3 sampai 4 underwriting dalam satu semester, atau sama dengan pencapaian tahun 2010.

“Namun kami belum bisa ungkapkan berapa target nilai penjaminannya, tetapi kami optimis masih cukup baik. Sejauh ini kami sudah menjamin dua buah obligasi dan akan bertambah satu lagi dikuartal kedua,” ujar Hari.

Sebelumnya, MNC Securities juga optimis dan menargetkan nilai penjaminan emisi sebanyak 2 triliun rupiah, yang sebagian besarnya akan diperoleh dari penjaminan emisi obligasi. Terakhir, Federal International Finance (FIF) kembali menerbitkan surat utang senilai 2 triliun rupiah.

Obligasi FIF XI tahun 2011 ini sedianya akan diterbitkan dalam tiga seri, yakni seri A dengan tenor 370 hari, seri B bertenor 24 bulan dan seri C berjangka waktu 36 bulan. Untuk seri A kuponnya memakai acuan FR 18 dengan selisih (spread) antara 75 basis poin sampai 175 basis poin.

Sementara seri B mengacu pada FR 19 dengan spread 100 basis poin hingga 200 basis poin, dan seri C menggunakan FR 51 dengan spread 125 basis poin sampai 250 basis poin. Berdasarkan benchmark tersebut, maka imbal hasil Surat Utang FIF XI seri A kemungkinan akan berkisar antara 6,97 persen – 7,97 persen, dan seri B 7,92 persen – 8,92 persen serta seri C 8,59 persen – 9,54 persen.

“Jika nantinya penyerapan pasar bagus, dan kuponnya bisa premium, maka tidak menutup kemungkinan kami akan menaikkan nilai penerbitan obligasinya menjadi 3 triliun sampai 4 triliun rupiah,” jelas Iman Rachman Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas, di Jakarta, Rabu (30/3).
Perusahaan sedianya akan melakukan penawaran umum (book building) pada 30 Maret 2011 hingga 8 April 2011, mendapatkan pernyataan efektif ditanggal 18 April 2011, dan mulai mencatatkan surat utangnya pada 27 atau 28 April 2011.
Perseroan telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas, PT HSBC Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, PT Kresna Graha Sekurindo Tbk, PT Mandiri Sekuritas dan PT NISP Sekuritas selaku pelaksana penjamin emisi.

Ayyi Achmad Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar