Selasa, 29 Maret 2011

Perusahaan Sektor Riil Tunggu Pasar Kondusif



Pasar Saham Perdana Masih Didominasi Perusahaan Sektor Jasa

Ketidakpastian kondisi global membuat minat perusahaan sektor riil untuk mencatatkan saham perdana menjadi minim. Terbukti, hingga akhir kuartal pertama, pasar penawaran umum saham perdana masih di dominasi oleh perusahaan yang bergerak disektor jasa.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), belum ada satu pun perusahaan di sektor riil yang mendaftarkan diri untuk melakukan pelepasan sahamnya kepada publik.

“Belum lagi jika melihat kondisi perdagangan saham di pasar domestik yang fluktuatif. Tentunya menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi sektor yang rentan terhadap situasi ekonomi politik tersebut,” ujar Nico Omer Jonkcheere Vice President Research Valbury Asia Securities, di Jakarta, Senin (28/3).

Disisi lain, Bapepam-LK masih melihat ini sebagai sesuatu yang wajar. Karena, perusahaan yang bergerak disektor riil umumnya banyak masuk ke pasar modal di semester kedua, atau tatkala perdagangan saham sedang dalam kondisi menanjak.

“Mungkin perhitungannya pemodal akan masuk ke sektor jasa terlebih dahulu. Setelah mendapatkan uang (keuntungan) dari sana, baru mereka membiayainya untuk kegiatan di sektor riil. Dengan asumsi, mereka akan masuk dikala pasar sudah jauh lebih stabil,” ungkap Anis Baridwan Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK, di Jakarta, Senin (28/3).

Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya fakta jika enam perusahaan yang telah dan akan mencatatkan saham perdananya dikuartal satu dan dua 2011 seluruhnya bergerak disektor riil. Mulai dari PT Megapolitan Development Tbk, PT Martina Berto Tbk, PT Garuda Indonesia Tbk yang telah mencatatkan saham di BEI, ataupun PT Mitrabahtera Segara Segara Sejati Tbk, PT Sejahteraraya Anugrahjaya dan PT Jaya Agra Wattie,  yang sedianya akan masuk ke pasar dikuartal dua.

Direktur Utama Bahana Securities, Eko Yuliantoro mengatakan, fenomena ini disebabkan karena kondisi pasar yang belum stabil, sehingga memberikan sentimen negatif dan membuat minat investor untuk bertransaksi menjadi turun.

“Sehingga, calon perusahaan tercatat (emiten) juga menurunkan minatnya untuk mencari pendanaan melalui pasar saham. Ditambah lagi, kebutuhan akan pendanaan bagi perusahaan juga belum terlalu mendesak,” tutur Eko, di Jakarta, Senin (28/3).

Meski begitu, pelaku pasar tetap optimis jika pasar Initial Publik Offering (IPO) di bursa saham Indonesia akan kembali marak. Hal itu akan terjadi ketika kondisi regional mulai membaik. Sejauh ini, pihaknya juga telah menerima dua mandat penawaran umum saham perdana, yang keduanya berasal dari perusahaan di sektor jasa.

“Namun saat ini belum bisa kami beritahukan detilnya seperti apa. Saat ini kami masih menunggu kejelasan lebih lanjutm dan kemungkinan pada bulan depan baru akan kita publish kepada khalayak umum,” tutup Eko.

Ayyi Achmad Hidayah


Tabel
Realisasi dan Proyeksi IPO
2011


No
Perusahaan
Sektor
Waktu
1
PT Megapolitan Development Tbk
Jasa dan Properti
Januari
2
PT Martina Berto Tbk
Jasa dan Manufaktur  
Januari
3
PT Garuda Indonesia Tbk
Jasa Penerbangan
Februari
4
PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk
Jasa Pelayaran
April
5
PT Sejahteraraya Anugrahjaya
Jasa Pengelola Rumah Sakit
April
6
PT Jaya Agra Wattie
Jasa dan Perdagangan
Mei

Sumber: Koran Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar