Selasa, 22 Maret 2011

Kementerian BUMN Muluskan Penyelamatan Tiga Sekuritas


 

Tiga Pelaksana Penjamin Emisi Garuda Indonesia Tengah Berbenah

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengemukakan opsi penyelamatan tiga sekuritas pelaksana penjamin emisi, atau Joint Lead Underwriter (JLU) PT Garuda Indonesia Tbk, yang sedianya akan dilakukan dalam waktu dekat.

Opsi yang pertama, Menteri BUMN merestui langkah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) untuk membeli mayoritas saham pemerintah di PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI), yang dalam hal ini memiliki kendali atas PT Bahana Securities.

Upaya tersebut dilakukan mengingat BNI memiliki perusahaan efek (BNI Securities) yang belum cukup kuat. Ditambah lagi, Bahana Securities memiliki potensi yang baik namun kini tengah mengalami  kesulitan permodalan akibat harus menyerap sisa saham perdana PT Garuda Indonesia Tbk.

Proses ini diharapkan bisa memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, dan tentunya berdampak positif bagi kelangsungan bisnis perusahaan dibidang sekuritas, ventura (permodalan) dan pembiayaan properti.

“Mereka sudah melakukan penjajakan, jika BNI telah siap, kami akan masukkan proses penggabungan usaha (merger) tersebut kedalam rencana (pipeline), dan kami juga siap melakukan revisi peraturan pemerintah (PP), dari sebelumnya Badan Usaha Milik Negara menjadi anak usaha,” ujar Mustafa Abubakar Menteri BUMN, di Jakarta, Jumat (18/3).

Saat ini, 100 persen saham BPUI dimiliki oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Keuangan. Sebelumnya, sejak didirikan pada 1973, 82,2 persen saham BPUI dimiliki oleh Bank Indonesia dan 17,8 persen saham sisanya dimiliki oleh Pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro mengaku akan menyerahkan langkah tersebut sepenuhnya kepada pemegang saham. Pada prinsipnya dia akan mematuhi segala keputusan yang nantinya akan dihasilkan dari pembicaraa kedua belah pihak.

Opsi kedua yang dilemparkan Kementerian BUMN adalah akan tetap mempertahankan PT Danareksa Sekuritas menjadi perusahaan BUMN, karena dinilai memiliki nilai historis dan permodalan yang cukup kuat.

Sebagai sekuritas BUMN pertama, pihaknya akan tetap dipertahankan untuk tidak berafiliasi dengan siapa pun, dan kedepan malah akan dikucuri dana talangan untuk semakin memperkuat eksistensinya di pasar modal domestik.

Artinya, Kementerian BUMN menginginkan agar Danareksa tetap berdiri sendiri walau tak menutup kemungkinan jika seandainya ada pihak baik swasta maupun perusahaan BUMN yang ingin membeli saham pemerintah di Danareksa Sekuritas, maka akan dilakukan pembahasan kembali.

“Namun saya pikir beban perusahaan tidak seberat beban yang ditanggung oleh Bahana Securities. Sebab pendanaannya masih bisa ditoleransi,” tambah Mustafa. Adapun untuk Mandiri Sekuritas, akan ditangani langsung oleh induk usahanya PT Bank Mandiri Tbk.

Langkah ini sekaligus mematahkan wacana penggabungan tiga sekuritas BUMN yang belakangan justru semakin kencang berhembus. “Saya belum dengar itu, yang saya dengar antara Bahana Securities dengan BNI saja. Saya kira tidak ada keharusan untuk ketiganya bergabung,” lanjut Mustafa.

Seperti diketahui, rencana penggabungan usaha tiga sekuritas BUMN muncul setelah ketiganya mengalami kesulitan likuiditas akibat berkurangnya modal kerja ketiga perusahaan karena harus menyerap 47,48 persen saham Garuda Indonesia yang tidak terserap investor senilai 2,25 trilun rupiah.

Jumlah tersebut membuat setiap sekuritas diharuskan menyerap saham Garuda senilai 750 miliar rupiah terhadap pelepasan saham perdana perusahaan penerbangan pelat merah tersebut.

Ayyi Achmad Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar