Jaringan Distribusi “Datafeed” Perdagangan Sudah Dua Kali Terganggu
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mewajibkan perusahaan efek untuk memiliki lebih dari satu vendor jaringan komunikasi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meminimalisir terjadinya gangguan distribusi panduan informasi perdagangan (datafeed) bursa kepada Anggota Bursa (AB).
“Hal itu kemungkinan akan kita wajibkan dalam waktu dekat. Nantinya akan coba kita atur melalui penerbitan aturan baru, walaupun sebenarnya dalam panduan transaksi perdagangan saham online (online trading) sudah ada. Tetapi untuk lebih memperjelas akan kita tegaskan kembali,” tutur Adikin Basirun Direktur Teknologi Informasi BEI, di Jakarta, Senin (21/3).
Upaya ini merupakan tindak lanjut dari adanya gangguan jaringan komunikasi Arthatel, yang tidak lain adalah salah satu vendor yang digunakan AB untuk mengirim informasi perdagangan. Akibat dari terputusnya interkoneksi tersebut, puluhan perusahaan sekuritas sempat tidak bisa menyajikan datafeed bursa selama 30 menit.
Gangguan sendiri terjadi pada pukul 10.20 waktu Jakarta Automatic Trading System (JATS) dan sudah dapat diatas pada pukul 10.50 waktu JATS. Pihak bursa sendiri belum menerima laporan lanjutan mengenai penyebab terputusnya saluran komunikasi Arthatel kepada AB.
“Karena itu diluar kontrol bursa, Arthatel sendiri disewa oleh Anggota Bursa, dan selain mereka, masih ada beberapa vendor lain yang disewa oleh AB seperti, First Media, Lintas Artha maupun jaringan remote trading yang dimiliki oleh bursa itu sendiri,” jelas Adikin.
Pihak BEI sendiri telah menetapkan standarisasi bagi vendor komunikasi yang diperbolehkan menjadi rekanan perusahaan sekuritas dalam mengirimkan informasi datafeed. Beberapa diantaranya yang harus dipenuhi adalah mengenai ketentuan kapasitas jaringan (bandwith) atau Service Level Agreement (SLA) Availability diatas 99,75 persen.
Menanggapi hal tersebut, Avi Dwipayana Komisaris PT Trimegah Securities mengaku tidak berkeberatan. Menurutnya, hal itu justru akan berdampak positif terhadap perdagangan di bursa saham. Sementara terkait putusnya aliran komunikasi Arthatel kepada perusahaan memang tidak memberikan dampak yang telalu signifikan, "Namun setelah ada kajian perlu diganti atau ditambah, ya akan kita lakukan," kata Avi.
Sebelumnya, kejadian serupa sempat terjadi pada perdagangan saham Selasa (1/2), dan ketika itu disebabkan oleh terputusnya catuan daya yang digunakan untuk mengaliri listrik ke sistem informasi perdagangan bursa. Kejadian itu tidak terlepas karena telah usangnya peralatan listrik, serta kian terbatasnya fungsi perangkat teknologi informasi yang ada di Bursa Efek Indonesia.
Oleh sebab itu, otoritas bursa akhirnya memutuskan untuk melakukan revitalisasi terhadap semua komponen kelistrikan dan perangkat yang berhubungan dengan sumber tenaga atau daya bagi sistem perdagangan di pasar modal tanah air.
“Saat ini prosesnya telah masuk kedalam tahap penyeleksian vendor. Kita sudah memiliki 5 vendor, dan dari jumlah tersebut akan kita pilih satu. Kemungkinan dalam waktu dekat sudah bisa terpilih dan kita akan langsung mulai pengerjaannya,” ujar Adikin.
Untuk itu, kedepannya bursa akan melakukan pemeriksaan menyeluruh demi untuk mengukur sejauh mana proses revitalisasi harus dilakukan, dan berapa kapasitas daya yang memang dibutuhkan. Sementara untuk panel kelistrikan, sedianya akan diganti seluruhnya seiring dengan peremajaan alat. Bursa Efek Indonesia juga akan menaikkan kapasitas sistem perdagangan hingga lima kali lipat. Dari yang sebelumnya 500 ribu transaksi (trade) menjadi 2,5 juta trade, dan dari kapasitas 1 juta pemesanan (order) menjadi 5 juta order.
Hal ini dilakukan demi mengantisipasi peningkatan jumlah transaksi dan pemesanan, yang pada akhir 2010 telah mencapai 120 ribu transaksi. Terakhir, BEI tengah membangun Disaster Recovery Center (DRC) bagi Anggota Bursa, yang rencananya wajib dimiliki dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.
Ayyi Achmad Hidayah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar