Selasa, 22 Maret 2011

Investor Mengurangi Agresifitas di Pasar Modal


 


Rata-Rata Transaksi Harian Bursa Efek Indonesia Mengalami Penurunan

Ketidakpastian kondisi global membuat investor cenderung menahan diri untuk kembali berinvestasi di pasar modal Indonesia. Hal tersebut praktis membuat rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak pertengahan Februari 2011 hingga minggu ketiga Maret 2011 mengalami penurunan.

Berdasarkan data perdagangan BEI, dalam kurun waktu tersebut rata-rata harian transaksi hanya mencapai 3 triliun sampai 4 triliun rupiah, atau mengalami penurunan sekitar 1 triliun rupiah jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian Januari 2011 hingga pertengahan Februari 2011 yang berjumlah 5 triliun - 6 triliun rupiah.

Head of Research E-Trading Securities Betrand Raynaldi mengatakan, sejak akhir Februari 2011 hingga minggu ketiga Maret 2011 terjadi sentimen negatif terhadap pasar saham global. Sentimen negatif itu banyak dipengaruhi oleh krisis yang terjadi di timur tengah, khususnya Libya. Sehingga membuat pergerakan pasar saham dunia sulit untuk diprediksi, dan membuat investor menahan diri untuk tidak melakukan transaksi pada saat ini.

“Ditambah lagi dengan adanya bencana gempa, tsunami dan ancaman nuklir di Jepang, membuat investor semakin menahan diri dan cenderung berhati-hati dalam bertransaksi di pasar saham, tak terkecuali di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” tutur Bertrand.

Hal itu pun diakui oleh Ananta Wiyogo, Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Menurutnya, pasar saham dunia, termasuk Indonesia memang kini tengah mengalami tekanan, sehingga membuat volume perdagangan menjadi turun yang otomatis berimbas pada pelemahan rata-rata nilai transaksi harian.

“Pada awal tahun kita sempat mencatatkan rata-rata transaksi harian diatas 5 triliun rupiah, namun belakangan nilainya anjlok menjadi hanya sekitar 4,8 triliun rupiah. Namun kita tidak perlu khawatir, karena koreksi itu masih dalam batas yang wajar, dan pasar kita juga masih tetap menarik bagi investor asing maupun domestik,” lanjut Ananta.

Saat ini, pasar saham global dikatakan sedang mengalami konsolidasi, sehingga mempengaruhi volume perdagangan saham di seluruh dunia tak terkecuali di IHSG. Jika ketidakpastian perekonomian global mengalami peningkatan, maka harga komoditas khususnya minyak akan mengalami peningkatan.

Ditambah lagi dengan adanya kebijakan pengetatan fiskal di Eropa yang semakin membuat investor cenderung menarik dananya di pasar modal dan memindahkan ke investasi lain yang bersifat lindung nilai. Sikap menahan diri investor, baik asing maupun lokal diperkirakan masih akan terjadi hingga diterbitkannya laporan keuangan kuartal pertama 2011. Dari sana, investor dapat menentukan arah investasi, apakah nantinya kembali masuk atau cenderung melepas kepemilikan sahamnya.

Untuk itu, IHSG diprediksi masih akan bergerak dikisaran terbatas antara level 3.300 sampai 3.800 poin. Menguatnya nilai tukar rupiah yang menyentuh level tertingginya dalam 4 tahun terakhir membuat beberapa investor asing melepas kepemilikan sahamnya agar mendapatkan keuntungan dari apresiasi penguatan rupiah saat menukarkan sahamnya ke mata uang lain, khususnya ke mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Namun menurut data KSEI, portofolio kepemilikan efek asing hingga Maret 2011 ini justru mengalami kenaikan dari sebelumnya 61 persen di akhir 2010 menjadi 63 persen. Sementara portofolio investor domestik mengalami penurunan dari 49 persen ke posisi 47 persen.

Ayyi Achmad Hidayah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar